peta hijau sahabat sepeda yogyakarta 2006-2007


Tuesday, April 17, 2007
Yogyakarta Jadi "Pilot Project Global Road Safety"

Yogyakarta, Kompas - Yogyakarta akan menjadi salah satu pilot project program "The First United Nation Global Road Safety Week in Asia and the Pacific Region" yang akan berlangsung 23-29 April. Kegiatan ini merupakan sebuah pekan keselamatan transportasi jalan untuk menggugah semua pihak akan berkendara yang aman, sesuai aturan, dan selamat.

Pola berkendara yang baik dan memenuhi standar akan memperkecil angka kecelakaan yang selama ini cukup tinggi.

Staf Seksi Manajemen Dinas Perhubungan DIY Bagas Senoadji, Jumat (13/4), menuturkan, program yang baru pertama kali ini merupakan hasil kerja sama UN-Escape dan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tema program itu ialah "Young Road Users".

"Program ini dicanangkan di seluruh Indonesia dan salah satu pilot project-nya Yogyakarta. Yogyakarta terpilih, salah satunya, karena banyak anak mudanya. Anak muda menjadi salah satu sasaran karena merupakan kelompok berisiko tinggi akan kecelakaan," kata Bagas.

Beberapa program yang telah dibuat antara lain penyuluhan kepada siswa sekolah mengenai keselamatan berlalu lintas, sarasehan bike to work, dan sejumlah kegiatan lain yang berhubungan dengan lalu lintas. Siswa sekolah juga akan ditertibkan agar memakai helm standar.

Kondisi Yogyakarta yang heterogen dan memiliki banyak anak muda, lanjut Bagas, cukup menguntungkan. Mahasiswa yang pernah merasakan program ini diharapkan bisa menularkan pengalamannya ke daerah asal.

Korban

Secara terpisah, Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Kota Besar Yogyakarta Komisaris Noffan Widyayoko mengatakan pihaknya sangat mendukung gerakan Global Road Safety Week (GRSW) dengan cara melakukan operasi zebra simpatik.

Selama ini, menurut Noffan, korban kecelakaan di Indonesia yang cukup tinggi belum mendapat sentuhan dari banyak pihak. "Dua korban kasus flu burung mampu menyedot perhatian publik. Sedangkan korban kecelakaan lalu lintas yang jumlahnya lebih besar tidak pernah terperhatikan," ujarnya.

Di DIY, rata-rata korban kecelakaan meninggal akibat kecelakaan 8-10 orang per bulan. Kesadaran sebagian masyarakat yang masih rendah dalam berlalu lintas menjadi penyebab.

"Untuk itulah, kami sering mengimbau masyarakat untuk berlalu lintas yang benar. Helm, misalnya, masih banyak orang enggan memakai yang standar. Padahal, itu penting untuk keselamatan," kata Noffan, yang mengaku telah mengamankan sekitar 2.000 helm tidak standar sejak Februari. (WER)

Kompas > Yogyakarta
Sabtu, 14 April 2007

Posted at 01:54 am by greenmapsepeda
Comment (1)  




Sunday, March 25, 2007
Membelah Kampung Kota

"Lewat sini aja, yuuk!", ajak Anang kepada kami setelah melewati beberapa ruas jalan utama yang padat pada Sabtu pagi. Kami pun mengiyakan dan bersepeda melewati jalan-jalan kampung yang sempit, lengang, dan rindang. Jauh dari kebisingan dan polusi kendaraan bermotor yang mewarnai ruas jalan utama. Membelah kampung kota sebagai bagian dari survei bersama terakhir proyek Peta Hijau Sahabat Sepeda pun berlanjut, mulai dari pk 09.00 di depan Benteng Vredeburg melewati kawasan selatan kota Yogyakarta. Kami sempat mampir ke kawasan Kotagede untuk melihat pameran reksonstruksi pascagempa dan bertemu teman-teman pegiat pelestarian pusaka. Setelah beristirahat, menonton video, dan membincangkan isu pelestarian pusaka serta rencana update Peta Hijau Kotagede, kami pun melanjutkan perjalanan kembali menuju pusat kota Yogyakarta.

Berikut ini jalur yang disurvei pada hari Sabtu (24/03/2007) kemarin:

Benteng Vredeburg --> Jl. A. Dahlan --> Jl. Wirobrajan --> Jl. Kapt. Tendean --> Jl. Letjen S. Parman --> masuk Kampung Patangpuluhan --> Jl. Sugeng Jeroni --> masuk Kampung Gedongkiwa --> Jl. Prapanca --> Jl. Suryodiningratan --> masuk Kampung Minggiran (Suryodiningratan) --> Jl. D.I. Panjaitan --> masuk Kampung Mangkuyudan --> Jl. Mangkuyudan --> Jl. Parangtritis --> masuk Kampung Prawirotaman --> Jl. Sisingamangaraja --> Jl. Tri Tunggal --> Jl. Sorogenen --> Jl. Tegalpuri --> Jl. Tegalgendu --> masuk Kampung Celenan dan Jagalan --> Jl. Mondorakan --> Jl. Kemasan --> Jl. Ngeksigondo --> Jl. Rejowinangun --> Kebun Binatang Gembiraloka --> Jl. Kusumanegara --> Jl. Sultan Agung --> Jl. Senopati --> Benteng Vredeburg

Setelah menghabiskan satu cup es krim dan beristirahat sambil berteduh menunggu hujan reda, tim melakukan review survei di area Museum Benteng Vredeburg. Berikut ini beberapa hal yang telah didiskusikan:

1. Jalur/Kawasan yang tidak direkomendasikan sebagai jalur sepeda (jalur berbahaya)
- Jl. A. Dahlan (ramai, jalur bus kota)
- Jl. Wirobrajan (ramai, jalur bus kota, jalan menanjak-menurun)
- Jl. Kapt. Tendean (ramai, jalur bus kota)
- Jl. Sugeng Jeroni (jalan lebar memicu kendaraan bermotor dipacu kencang)
- Jl. D.I. Panjaitan (jalan sempit, ramai, jalur bus kota)
- Jl. Parangtritis (ramai, jalan tidak lebar)
- Jl. SO 1 Maret (ramai)
- Jl. Imogiri (ramai)
- Jl. Sorogenen (ramai, jalur bus kota)
- Jl. Mondorakan (ramai,jalan sempit, jalur bus kota,pada hari pasar macet total)
- Jl. Kemasan (ramai, jalan sempit, jalur bus kota, pada hari pasar macet total)
- Jl. Ngeksigondo (jalan lebar memicu kendaraan bemotor dipacu kencang)
- Jl. Kusumanegara: perempatan SGM, pertigaan dgn Jl. Cendana, persimpangan Jl. dgn Taman Siswa-Suryopranoto-Ki Mangunsarkoro, persimpangan dgn Jl. Batikan/Kali Mambu (ramai, jalur bus kota)
- Jl. Sultan Agung: persimpangan dgn Jl. Bintaran Wetan dan Kulon, persimpangan dengan Jl. Gajah Mada-Bioskop Permata (ramai, jalur bus kota)
- Jl. Senopati: perempatan Gondomanan (jalur bus kota, ramai)
- Perempatan Kantor pos besar (ramai, jalur bus kota)

2. Jalur yang direkomendasikan bagi pengendara sepeda (bisa dijadikan jalur alternatif)
- Jl. Senopati (rindang; awas jalur ramai)
- Jl. Sultan Agung sisi utara (rindang; awas jalur ramai)
- Jl. Kusumanegara-Sukonandi-Kapas-Cendana sisi utara (rindang; awas jalur ramai)
- Jl. Nyi Pembayun Kotagede (menghindari kepadatan Jl. Mondorakan-Jl. Kemasan)
- Jalan tembus antara Jl. Rejowinangun dan Jl. Ngeksigondo

3. Atraksi sepanjang jalan (apa saja yang bisa kita lihat dan kita alami di sepanjang jalur ini)
- Museum Benteng Vredeburg (wisata budaya-sejarah, parkir sepeda gratis-->titipkan ke petugas parkir scr khusus, cocok untuk istirahat, toilet)
- Pojok Beteng Kulon --> ada dua, di utara dan selatan (spot menarik, bernilai historis)
- Plengkung Gading (spot menarik, bernilai historis)
- Pojok Beteng Wetan (spot menarik, bernilai historis, kita bisa bersepeda melalui selasar tembok benteng dari Pojok Beteng Wetan ke arah Pelngkung Gading)
- Karta Pustaka Jl. Bintaran Tengah 16 (Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, pendapa asyik untuk istirahat, perpustakaan, toilet dgn izin)
- Museum Sasmitaloka Pangsar Jenderal Soedirman Jl. Bintaran Wetan (museum, bernilai historis, halaman belakang cocok untuk istirahat)
- Lapangan Minggiran, Suryodiningratan (ruang terbuka hijau, pepohonan rindang)
- Kawasan Kotagede (kawasan budaya-kerajinan tradisional, kesenian tradisional, bernilai historis-lokasi ibukota pertama Mataram Islam, banyak hal bisa dilihat: Hubungi Yayasan Kanthil Kotagede untuk mengetahui tempat/event menarik, informasi ada di Peta Hijau Kotagede 2004)
- Kebun Binatang Gembiraloka (ruang terbuka hijau dengan tiket, parkir memadai)
- Kawasan Kraton Yogyakarta dan Jeron Beteng (kawasan budaya, bernilai historis, informasi ada di Peta Hijau Jeron Beteng 2002 dan 2004)
- Alun-alun Pura Pakualaman (ruang terbuka hijau, ada beberapa PKL makanan)

4. Kampung kota
Bersepeda melewati permukiman penduduk di dalam kampung terasa lebih santai dan nyaman. Ada beberapa rekomendasi dan tips bagi pengendara sepeda yang melewati jalan-jalan kampung:
- Bersepedalah dengan santai, pelan-pelan karena berada di lingkungan permukiman warga
- biasanya banyak polisi tidur dalam berbagai ukuran dan bentuk
- Lebih baik dilewati pada saat pagi hingga sore hari (bisa sekaligus melihat aktivitas warga). Beberapa jalan kampung memiliki akses terbatas pada malam hari (ditutup portal, dijaga peronda, dsb)
- Biasanya ada banyak rambu-rambu buatan warga dan lebih baik benar-benar dipatuhi, a.l.: "Hati-Hati Banyak Anak", "Dilarang Ngebut", "Kendaraan Bermotor Matikan Mesin", hingga yang cukup ekstrem seperti "Ngebut Benjut"/Benjol)
- Bisa dijadikan jalur alternatif. Gunakan logika arah dan insting mengacu pada ruas-ruas jalan utama karena jalan kampung biasanya cukup rumit seperti labirin.
- Cukup mudah menjumpai tempat yang asyik buat beristirahat dan bersosialisasi dengan warga setempat, a.l. warung kecil, gardu ronda, lapangan olahraga, masjid/mushola, balai warga, dll.
- Jangan lupa senyum dan sapa kepada warga setempat


Semua data hasil survei akan dikompilasi terlebih dahulu. Tahap selanjutnya adalah review akhir seluruh data. Jadwal dan lokasi pelaksanaan review akan diinformasikan nanti. Mohon masukan dari Anda. Terima kasih... :>

Selamat bersepeda!


Posted at 12:35 pm by greenmapsepeda
Make a comment  




Friday, March 23, 2007
Survei Minggu Ini...



Hari, tanggal: Sabtu, 24 Maret 2007
Pukul: 08.00 - 14.00 (survei, istirahat, survei, review)
Tempat:
  • Berkumpul di trotoar depan Museum Benteng Vredeburg, Jl. A. Yani Yogyakarta pk 08.00
  • Kawasan yang akan disurvei adalah kawasan Yogyakarta pusat dan Yogyakarta selatan (masih dalam lingkar ringroad)
Peserta: Siapa pun boleh turut serta
Syarat ikut serta:
  • Datanglah dengan sepeda. Naik sepeda motor juga boleh, tapi pelan-pelan yak.
  • bekal makanan buat ramai-ramai
  • Awas hujan!
  • Terakhir: bawa senyum dan semangat untuk berkeliling mengamati ruang hidup bersepeda kita

Apa saja yang akan kita amati? Silakan cek di sini.

Salam

Posted at 08:53 pm by greenmapsepeda
Make a comment  




Monday, March 19, 2007
Jelajah Lintas Kampus Peta Hijau Sahabat Sepeda

Satu setengah jam setelah pk 08.00, yang disepakati sebagai waktu berkumpul, akhirnya tim survei Peta Hijau Sahabat Sepeda Yogyakarta mulai meluncur. Dari Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), tim berjumlah delapan orang ini kemudian bersepeda menelusuri kawasan utara Yogyakarta. Survei pada hari Minggu, 18 Maret 2007 ini merupakan survei bersama keempat yang dilakukan dalam rangka pembuatan peta hijau tersebut.

Dengan tambahan dua sepeda hijau pinjaman dari Gelanggang Mahasiswa UGM, kami melewati ruas jalan antar kampus yang saat ini telah memiliki jalur sepeda. Berikut ini jalur yang disurvei hari Minggu kemarin:

Gelanggang Mahasiswa UGM –> Bundaran UGM –> Jl. Terban –> Perempatan Pom Bensin Sagan –> Jl. Colombo (UNY) –> Jl. Gejayan –> Deresan –> Kompleks Penerbit Kanisius –> Selokan Mataram (utara Fakultas Peternakan UGM) –> Kawasan Lembah UGM –> Boulevard UGM –> Kompleks Kopma UGM –> Perumahan dosen UGm (Sekip) –> Kawasan Blimbing Sari –> Perumahan dosen UGM (Sekip) –> Jl. Kaliurang –> Gedung Rektorat UGM –> Fakultas Kehutanan UGM.

Taman terbuka di kompleks Fakultas Kehutanan UGM menjadi lokasi istirahat dan review hasil survei. Di bawah kesejukan pohon-pohon yang rindang serta suasana kampus yang sepi, kami mendiskusikan berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan bersepeda, terutama yang kita temui pada saat survei. Berikut ini beberapa hal yang sempat kami diskusikan:

1. Jalur sepeda
Fenomena ini telah sering dibahas dalam beberapa pertemuan sebelumnya. Secara umum, di Yogyakarta terdapat dua jenis jalur sepeda. Pertama, jalur sepeda (sebenarnya merupakan jalur lambat) permanen yang dipisah dengan pembatas jalan, seperti jalur di sepanjang Jl. Mangkubumi - Jl. A. Yani (Malioboro) dan jalur di sepanjang Boulevard UGM. Kedua, jalur sepeda antar kampus yang dibuat dengan menggunakan cat. Kami kembali mendiskusikan karakteristik dua jalur ini, sekaligus pendapat pro dan kontra mengenai keberadaan jalur-jalur tersebut.

Sebagai kesimpulan, proyek Peta Hijau Sahabat Sepeda ini tidak akan bersusah payah menuntut keberadaan jalur sepeda. Proyek ini, sesuai dengan semangat awalnya, lebih bertujuan untuk bagaimana agar masyarakat kembali bersedia memakai alat transportasi sepeda. Satu point tersebut jika bisa terwujud maka sudah merupakan pencapaian besar bagi warga Yogyakarta yang dahulu dikenal sebagai masyarakat kota sepeda.

2. Parkir
Masalah parkir juga kita bahas sebagai rangkaian dari pembahasan mengenai jalur sepeda. Bagaimana pun, masalah parkir di Yogyakarta belum teratasi dengan baik. Dalam pada itu, tiba-tiba muncul jalur sepeda. Yang terjadi, jalur sepeda pun tampak digunakan untuk parkir. Beberapa pihak kemudian merasa hal ini adalah tindakan yang tidak menghormati pemakai sepeda. Padahal, beberapa jalur sepeda baru muncul kemudian, jauh setelah area-area pinggir jalan itu digunakan sebagai lokasi parkir kendaraan bermotor.

Sama halnya dengan pembahasan mengenai jalur sepeda di atas, masalah parkir ini tidak menjadi tujuan advokasi proyek ini. Masalah jalur sepeda dan parkir akan lebih tepat dibahas dalam konteks penataan sistem transportasi publik kota secara menyeluruh. Terlebih lagi dalam hal advokasi kebijakan. Namun begitu, kami tetap akan mencoba mengumpulkan opini-opini dan rekomendasi publik mengenai dua isu tersebut.

3. Jalur/Kawasan yang tidak direkomendasikan untuk sebagai jalur bersepeda (jalur berbahaya)
Meliputi:
- Bundaran UGM (tempat mangkal bus perkotaan, banyak PKL)
- perempatan pom bensin Sagan (ramai, bus kota kecepatan tinggi yang akan menuju Kampus UGM)
- persimpangan Jl. Terban dan jalan menuju Masjid Kampus UGM (ramai oleh kendaraan yang akan memotong jalan dari dan menuju Kompelks Perumahan dosen dan Masjid Kampus UGM)
- Jl. Colombo (sepanjang Kompleks UNY); penuh PKL dan parkir
- sepanjang Jl. Gejayan (jalan raya kecepatan tinggi, panas, banyak parkir)
- Kompleks Penerbit Kanisius ke selatan (ke Selokan Mataram) pada hari kerja
- Jl. sepanjang Selokan Mataram sisi bawah (panas, ramai)
- Kawasan Lembah UGM pada hari kerja (walaupun teduh, tetapi ramai, termasuk jalur bus perkotaan kecepatan tinggi)
- Jl. Kaliurang (jalur kecepatan tinggi, jalur bus perkotaan, malam hari lebih berbahaya: jalur kecepatan tinggi, gelap, trotoar penuh PKL, bahu jalan penuh parkir kendaraan)
- Kopma UGM, BNI, Bank Mandiri, Jl. Kaliurang (titik penyeberangan kendaraan bermotor Kampus UGM di Jl. Kaliurang, awas bus kota kecepatan tinggi!)
- Perempatan Mirota Kampus (neraka jalanan bagi pengendara sepeda, sering terjadi kecelakaan, jalur bus kota kecepatan tinggi –> pernah ada bus kota masuk warung di lokasi ini :p)

4. Jalur yang direkomendasikan bagi pengendara sepeda (jalur asyik yang bisa digunakan sebagai jalur alternatif :> )
- Kompleks Deresan (terutama pada hari libur)
- Jalan sepanjang Selokan Mataram sisi atas (utara)
- Jalan baru di belakang Lembah UGM (via Fakultas Teknik UGM, belakang Stadion UGM) — sepi, walaupun banyak polisi tidur
- Kompleks perumahan dosen UGM (Sekip, Bulaksumur)
- Boulevard UGM
- Kawasan Kampus UGM (saran: buka area kampus bagi pengendara sepeda, hindari pemasangan portal yang mempersulit pengendara sepeda masuk)

5. Atraksi sepanjang jalan (apa saja yang bisa kita lihat dan kita alami di sepanjang jalur ini)
- “window shopping” PKL UNY (di sepanjang Jl. Colombo; walaupun hal ini berbahaya bagi pengendara sepeda karena bahu jalan penuh parkir kendaraan bermotor)
- pedagang buah Jl. Colombo (asyik juga utk istirahat)
- deretan mural Jl. Gejayan (kompleks UNY)
- Penerbit Kanisius (showroom buku full AC, parkir rindang)
- Warung Pecel SGPC (Selokan Mataram, utara Fakultas Peternakan UGM)
- PKL Lembah UGM (selatan Fakultas Peternakan UGM, jalan menuju stadion UGM)
- Kawasan Lembah UGM dan stadion
- Pasar Minggu UGM (beberapa komunitas bersepeda di Yogyakarta memanfaatkannya sebagai ajang berkumpul)
- Boulevard UGM (ada jalur sepeda, PKL, bisa lihat kegiatan-kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa yang berlatih di boulevard)
- Kompleks Graha Sabha Pramana (GSP UGM)
- Area pacaran terbuka pada malam hari di sekitar boulevard UGM, selatan Fakultas Ilmu Budaya, GSP (awas Satpam Kampus! :P)
- Gelanggang Mahasiswa UGM (toilet, parkir sepeda dengan rak: depan Unit Fotografi UGM, depan Mapagama UGM, tempat pinjam sepeda hijau)
- Rektorat UGM (parkir, hotspot, tempat peminjaman sepeda hijau)
- Masjid Kampus UGM (parkir, istirahat, toilet, showroom buku agama)

6. Apa itu “Parkir Ramah Sepeda”? Yang mana, ya…
- parkir dengan pelayanan khusus bagi pengguna sepeda + rak sepeda
- parkir dengan pelayanan khusus bagi pengguna sepeda, tanpa rak sepeda, tetapi dipisahkan dari kendaraan lain (ruang khusus)
- parkir campur dengan kendaraan lain

Selepas tengah hari, tim survei pun sepakat berpisah untuk kembali berkumpul melakukan survei kembali minggu depan. Namun, ternyata ngga ada yang mau pulang dan akhirnya kita lanjutkan dengan makan bareng di Kompleks Stadion Kridosono. Yummy… :P

Ok, survei selanjutnya akan dilakukan pada hari Sabtu, 24 Maret 2007 untuk kawasan Yogyakarta selatan. Titik berkumpul di trotoar depan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta pk 08.00 WIB. Siapa berminat ikut?

Kembali Bersepeda, Kembali Hijaukan Hidup Kita

Salam,

Elanto Wijoyono

* Tim Survei:
Elanto Wijoyono, Anang Saptoto, Prihatmoko (Moki), Azzah, Tulus Wicaksono, Tiwi, Hani, Weda (Unhas Makassar)


Posted at 02:05 pm by greenmapsepeda
Make a comment  




Tuesday, December 19, 2006
Emisi Kendaraan Dekati Ambang Batas Toleransi

Emisi kendaraan bermotor menjadi salah satu penyumbang polusi udara terbanyak di DIY, di samping proses industri dan pembakaran. Selain hidrokarbon (HC) yang dapat menyebabkan kanker, leukimia, dan penyakit serius lainnya, emisi kendaraan bermotor juga mengeluarkan karbon monoksida (CO) dan timah hitam (Pb) yang juga berbahaya untuk kesehatan, terutama bagi anak-anak. Meskipun kadar CO dan Pb dalam udara DIY belum melampaui baku mutu udara ambien, namun jumlah kadar zat, energi, dan komponen yang terkandung di dalamnya cukup tinggi.

Mengacu pada publikasi Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (KPDL) Kota Yogyakarta awal tahun 2005, kandungan CO dan Pb atau timbal di wilayah perumahan cenderung lebih rendah ketimbang di tempat umum lainnya. Kualitas udara di perempatan jalan besar seperti di perempatan Wirobrajan, Mirota Kampus (Terban), dan Jalan Magelang cukup mengkhawatirkan. Kadar CO dan timbal di tiga lokasi tersebut mendekati ambang baku mutu ambien yang ditoleransi, yaitu 30.000 mikrogram per meter kubik (ug/m3) untuk CO dan timbal sebesar 2,0 ug/m3 (lihat Grafis).

Padahal, polusi udara akibat CO dapat menyebabkan cacat pada janin, kerusakan otak, bahkan kematian pada bayi. Pencemaran timbal dapat menurunkan kecedasan anak, menghambat pertumbuhan, hingga mengurangi kemampuan mendengar dan berkosentrasi pada anak-anak, terutama yang berusia di bawah enam tahun.

Guna mengurangi emisi kendaraan bermotor, sebenarnya sejak pertengahan tahun 2006 telah diberlakukan penggunaan bensin tanpa timbal. Pertamina sebagai produsen terbesar pun sudah tak memproduksi bensin bertimbal lagi sejak 1 Juli 2006. Namun, mahalnya harga jual bensin tanpa timbal di Indonesia, seperti pertamax (Rp 6.000 per liter) dan pertamax plus (Rp 6.250 per liter), masih menjadi problem tersendiri bagi masyarakat. (NURUL FATCHIATI/LITBANG KOMPAS)


Kompas > Yogyakarta - Jumat, 15 Desember 2006

Posted at 07:35 am by greenmapsepeda
Make a comment  




Thursday, December 14, 2006
Workshop Kedua Peta Hijau Sahabat Sepeda

Workshop kedua Peta Hijau Sahabat Sepeda di Kinoki Rabu, 13 Desember 2006 kemarin berlangsung dalam suasana hujan. Sedianya akan dilakukan survei bersama mulai pk 17.00 ke arah utara. Namun, survei bersama ini terpaksa dibatalkan karena tidak semua peserta membawa jas hujan.

Workshop tetap dilanjutkan pada pk 19.00 dengan mencoba mendiskusikan dan memetakan fenomena-fenomena bersepeda yang sudah sangat familiar. Diputuskan untuk memetakan jalur sepeda di Kota Yogyakarta. Malam itu berhasil dipetakan beberapa jalur sepeda, yaitu:
- Jalur sepeda antar kampus (Jl. Cik Di Tiro, Jl. Colombo, Bulevard UGM Jl. Pancasila, Jl. Nusantara Kampus UGM, Jl. Gejayan Mrican)
- Jalur sepeda Jl. Mangkubumi (perempatan Tugu - Stasiun Yogyakarta)
- Jalur sepeda Jl. Achmad Yani/Malioboro (Stasiun Yogyakarta - Pasar Beringharjo)

Selain memetakan ketiga jalur diatas, kita juga mendiskusikan hal-hal apa saja yang mewarnai masing-masing jalur tersebut. Hingga pk 21.00 berhasil dikumpulkan beberapa fakta yang mendukung dan menghambat (atau mengancam) kegaiatan bersepeda di ketiga jalur itu. Telah disepakati pula penggunaan ikon Green Map yang dipakai untuk mewakili temuan tersebut.

Untuk menebus target survei kawasan Yogyakarta utara yang batal terlaksana pada sore kemarin, setiap orang kemudian membawa peta dan beberapa formulir untuk melakukan pemetaan mandiri selama dua minggu ke depan. Hasil pemetaan mandiri itu akan dikumpulkan dan dibahas pada pertemuan selanjutnya.Survei bersama selanjutnya akan dilaksanakan pada hari Rabu, 27 Desember 2006 pk 17.00 dari Kinoki Jl. Suroto No. 20 Kotabaru, Yogyakarta. Jika berminat ikut, silakan langsung datang pada jadwal tersebut!

Peta Yogyakarta, Buku Panduan Survei, dan Formulir Survei saat ini telah tersedia di Kinoki. Jika teman-teman berminat melakukan survei mandiri bisa mengambil perlengkapan survei tersebut di Kinoki dengan menghubungi Elida (0817 411 4573).

Ikuti terus perkembangan Peta Hijau Sahabat Sepeda Yogyakarta (2006-2007) di milis dan weblog kita!

Salam,


Elanto Wijoyono


e-mail: greenmapper_jogja@yahoo.com
milis: greenmapper_jogja@yahoogroups.com
weblog: petahijau.wordpress.com, greenmapsepeda.blogdrive.com

Posted at 02:15 pm by greenmapsepeda
Comment (1)  




Previous Page Next Page



   





<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


View Larger Map

Peta Hijau Sahabat Sepeda
adalah pemetaan lingkungan
yang ramah dan juga yang
mengancam pengguna sepeda
di Kota Yogyakarta memakai
metode Green Map

Kenapa peta:
Kita perlu lebih dari hanya
arah jalan dari sana ke sini,
tapi bagaimana bisa ke sana
dari sini dengan santai,
asyik, dan aman.

Selain dapat memenuhi tujuan
praktis, peta hijau ini juga
diharapkan dapat menjadi salah
satu titik keberangkatan kita
dalam mewujudkan dunia gagasan
kegiatan bersepeda ke dalam realita.

Sahabat Sepeda, Siapa:
Ya...menjadi sahabat bukan
hanya buat penunggang sepeda,
tapi juga siapapun yang bisa
mendukung kondisi bersepeda
yang lebih baik pada saat ini
dan di masa mendatang.
Bisa siapa saja, baik pesepeda
maupun bukan pesepeda.

Dikerjakan oleh para relawan
dengan berbagai macam
latar belakang, diinisiatori
oleh Kinoki dan
Greenmaper Jogja
sejak awal tahun 2007

Info lebih lanjut hubungi:

Kinoki
bukan bioskop bukan coffeeshop
Jl. Soeroto No. 20 Kotabaru
Yogyakarta
Kontak: Elida
e-mail: kinoki.jogja@gmail.com

Greenmaper Jogja
Kontak: Elanto Wijoyono
e-mail:greenmapper_jogja@yahoo.com
URL: Green Map Indonesia

Link:
Kinoki
Peta Hijau
Peta Hijau Blog
Cyclistreport
Green Map System
Sahabat Sepeda
Bike2Work Chapter Yogyakarta






Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed