Yogyakarta, Kompas - Yogyakarta akan menjadi salah satu pilot project program
"The First United Nation Global Road Safety Week in Asia and the Pacific Region" yang akan berlangsung 23-29 April. Kegiatan ini merupakan sebuah pekan keselamatan transportasi jalan untuk menggugah semua pihak akan berkendara yang aman, sesuai aturan, dan selamat.
Pola berkendara yang baik dan memenuhi standar akan memperkecil angka kecelakaan yang selama ini cukup tinggi.
Staf Seksi Manajemen Dinas Perhubungan DIY Bagas Senoadji, Jumat (13/4), menuturkan, program yang baru pertama kali ini merupakan hasil kerja sama UN-Escape dan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tema program itu ialah "Young Road Users".
"Program ini dicanangkan di seluruh Indonesia dan salah satu pilot project-nya Yogyakarta. Yogyakarta terpilih, salah satunya, karena banyak anak mudanya. Anak muda menjadi salah satu sasaran karena merupakan kelompok berisiko tinggi akan kecelakaan," kata Bagas.
Beberapa program yang telah dibuat antara lain penyuluhan kepada siswa sekolah mengenai keselamatan berlalu lintas, sarasehan bike to work, dan sejumlah kegiatan lain yang berhubungan dengan lalu lintas. Siswa sekolah juga akan ditertibkan agar memakai helm standar.
Kondisi Yogyakarta yang heterogen dan memiliki banyak anak muda, lanjut Bagas, cukup menguntungkan. Mahasiswa yang pernah merasakan program ini diharapkan bisa menularkan pengalamannya ke daerah asal.
KorbanSecara terpisah, Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Kota Besar Yogyakarta Komisaris Noffan Widyayoko mengatakan pihaknya sangat mendukung gerakan
Global Road Safety Week (GRSW) dengan cara melakukan operasi zebra simpatik.
Selama ini, menurut Noffan, korban kecelakaan di Indonesia yang cukup tinggi belum mendapat sentuhan dari banyak pihak. "Dua korban kasus flu burung mampu menyedot perhatian publik. Sedangkan korban kecelakaan lalu lintas yang jumlahnya lebih besar tidak pernah terperhatikan," ujarnya.
Di DIY, rata-rata korban kecelakaan meninggal akibat kecelakaan 8-10 orang per bulan. Kesadaran sebagian masyarakat yang masih rendah dalam berlalu lintas menjadi penyebab.
"Untuk itulah, kami sering mengimbau masyarakat untuk berlalu lintas yang benar. Helm, misalnya, masih banyak orang enggan memakai yang standar. Padahal, itu penting untuk keselamatan," kata Noffan, yang mengaku telah mengamankan sekitar 2.000 helm tidak standar sejak Februari. (WER)
Kompas > YogyakartaSabtu, 14 April 2007